Dalam pandangan Puput, perhatian terhadap karawo kerap berhenti pada produk yang telah selesai dibuat. Kain itu dikenal, dipasarkan, dan menjadi bagian dari identitas kebudayaan Gorontalo. Sementara itu, kehidupan orang-orang yang mengerjakannya belum tentu memperoleh perhatian yang sama.
Dari sanalah ia mulai memikirkan bagaimana sebuah karya seni dapat digunakan untuk menyampaikan cerita yang selama ini berada di belakang produk.
Bagi Puput, kain tersebut bukan hanya hasil kerajinan yang dapat dinilai dari motif atau harga jualnya. Karawo juga menyimpan cerita tentang manusia, keterampilan, pekerjaan, dan hubungan antara mereka yang memproduksi dengan pihak-pihak yang memasarkan hasilnya.
Ketertarikan Puput terhadap persoalan itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan industri karawo dan pernah menerima pekerjaan desain motif untuk produk tersebut. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mengenal karawo bukan hanya sebagai bagian dari kebudayaan daerah, tetapi juga sebagai industri yang melibatkan banyak orang dengan peran berbeda.
Dari kedekatan tersebut, Puput mulai melihat adanya jarak antara produk yang dikenal masyarakat dan orang-orang yang mengerjakannya.