Ketika karawo hadir sebagai produk yang dipasarkan melalui industri atau merek tertentu, perhatian konsumen cenderung tertuju pada kain yang sudah jadi. Nama merek dan nilai komersial produk menjadi bagian dari identitas yang melekat pada barang tersebut. Akan tetapi, proses yang berlangsung sebelum kain sampai ke tangan konsumen tidak selalu terlihat.
Di bagian itulah Puput menemukan persoalan yang ingin ia angkat melalui karya seninya.
Ia ingin melihat perjalanan karawo dari hulu hingga hilir, mulai dari proses pengerjaan oleh pengrajin, hubungan mereka dengan industri, hingga produk tersebut dipasarkan kepada konsumen. Baginya, memahami karawo tidak cukup hanya dengan mengenali motif dan proses pembuatannya. Perlu pula melihat bagaimana orang-orang yang terlibat di dalamnya menjalani pekerjaan dan memperoleh pengakuan atas keterampilan mereka.
Persoalan kesejahteraan menjadi salah satu hal yang mengusik pikirannya. Pengrajin mencurahkan waktu dan kemampuan untuk menghasilkan produk, tetapi pengakuan terhadap hasil kerja mereka tidak selalu sebanding dengan peran yang dijalankan.
Dalam rantai produksi, terdapat pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab dan kepentingan berbeda. Pemilik usaha, pemilik merek, perancang, dan pengrajin menempati posisi masing-masing. Namun, ketika produk sampai ke pasar, keterampilan orang yang mengerjakannya dapat tenggelam di balik nama yang lebih dikenal konsumen.