NADIKABAR.COM — Di balik selembar kain karawo, terdapat ketelitian yang tinggi, waktu yang panjang, dan kehidupan para pengrajin yang jarang terlihat saat kain dipamerkan atau dipasarkan.
Menyibak keindahan kain tradisional Gorontalo ini, seniman Putri Diah menghadirkan cerita lain melalui karya seni digitalnya.
Perempuan yang akrab disapa Puput ini tidak sekadar menampilkan karawo sebagai produk kebudayaan. Ia ingin mengajak kita melihat lebih jauh kepada para pembuatnya, khususnya pekerja perempuan yang keterampilan mereka menjadi fondasi keberlangsungan industri karawo.
Kegelisahan itulah yang ia terjemahkan ke dalam karya digital yang kini dipamerkan di Riden Baruadi Gallery. Melalui digital painting, Puput membawa kehidupan para pengrajin ke ruang apresiasi seni, tempat sebuah karya dinikmati bukan hanya dari keindahannya, tetapi juga dari cerita yang melatarbelakanginya.
Karawo merupakan kain khas Gorontalo yang dibuat melalui teknik melubangi dan mengiris kain mengikuti motif tertentu. Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan keterampilan tangan.
Dalam pandangan Puput, perhatian terhadap karawo kerap berhenti pada produk yang telah selesai dibuat. Kain itu dikenal, dipasarkan, dan menjadi bagian dari identitas kebudayaan Gorontalo. Sementara itu, kehidupan orang-orang yang mengerjakannya belum tentu memperoleh perhatian yang sama.
Dari sanalah ia mulai memikirkan bagaimana sebuah karya seni dapat digunakan untuk menyampaikan cerita yang selama ini berada di belakang produk.
Bagi Puput, kain tersebut bukan hanya hasil kerajinan yang dapat dinilai dari motif atau harga jualnya. Karawo juga menyimpan cerita tentang manusia, keterampilan, pekerjaan, dan hubungan antara mereka yang memproduksi dengan pihak-pihak yang memasarkan hasilnya.
Ketertarikan Puput terhadap persoalan itu tidak muncul begitu saja. Ia tumbuh di lingkungan yang dekat dengan industri karawo dan pernah menerima pekerjaan desain motif untuk produk tersebut. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mengenal karawo bukan hanya sebagai bagian dari kebudayaan daerah, tetapi juga sebagai industri yang melibatkan banyak orang dengan peran berbeda.
Dari kedekatan tersebut, Puput mulai melihat adanya jarak antara produk yang dikenal masyarakat dan orang-orang yang mengerjakannya.
Ketika karawo hadir sebagai produk yang dipasarkan melalui industri atau merek tertentu, perhatian konsumen cenderung tertuju pada kain yang sudah jadi. Nama merek dan nilai komersial produk menjadi bagian dari identitas yang melekat pada barang tersebut. Akan tetapi, proses yang berlangsung sebelum kain sampai ke tangan konsumen tidak selalu terlihat.
Di bagian itulah Puput menemukan persoalan yang ingin ia angkat melalui karya seninya.
Ia ingin melihat perjalanan karawo dari hulu hingga hilir, mulai dari proses pengerjaan oleh pengrajin, hubungan mereka dengan industri, hingga produk tersebut dipasarkan kepada konsumen. Baginya, memahami karawo tidak cukup hanya dengan mengenali motif dan proses pembuatannya. Perlu pula melihat bagaimana orang-orang yang terlibat di dalamnya menjalani pekerjaan dan memperoleh pengakuan atas keterampilan mereka.
Persoalan kesejahteraan menjadi salah satu hal yang mengusik pikirannya. Pengrajin mencurahkan waktu dan kemampuan untuk menghasilkan produk, tetapi pengakuan terhadap hasil kerja mereka tidak selalu sebanding dengan peran yang dijalankan.
Dalam rantai produksi, terdapat pihak-pihak yang memiliki tanggung jawab dan kepentingan berbeda. Pemilik usaha, pemilik merek, perancang, dan pengrajin menempati posisi masing-masing. Namun, ketika produk sampai ke pasar, keterampilan orang yang mengerjakannya dapat tenggelam di balik nama yang lebih dikenal konsumen.