NADIKABAR.COM — Kementerian Luar Negeri Korea Utara, Selasa, menolak temuan militer Korea Selatan yang menyalahkan Pyongyang atas ledakan ranjau darat baru-baru ini, serta menuduh Seoul berupaya “mengalihkan kesalahan” atas kecelakaan yang terjadi.
Dalam pernyataan yang disiarkan kantor berita resmi Korean Central News Agency (KCNA), Kementerian Luar Negeri menuduh Korea Selatan berupaya meminta pertanggungjawaban Korea Utara atas “sandiwara yang telah direkayasa sebelumnya” dan mencoreng citra internasional Pyongyang.
“Ini merupakan provokasi serius yang tidak boleh dibiarkan dan pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan kami yang layak mendapat hukuman,” kata kementerian tersebut.
Militer Korea Selatan, Senin, mengatakan ranjau yang ditanam Korea Utara di sisi selatan Garis Demarkasi Militer meledak pada akhir September dan melukai tiga perwira militer.
Militer Korea Selatan menyatakan telah mengangkat sebagian ranjau dan menuntut Pyongyang segera membersihkan ranjau yang tersisa serta menyampaikan “permintaan maaf yang tulus” kepada para prajurit yang terluka.
Namun, Kementerian Luar Negeri Korea Utara mengatakan, “Kami tidak peduli dengan upaya mereka untuk menyingkirkan ranjau yang tidak ada kaitannya dengan kami, dan kami tidak punya alasan untuk memperhatikan sandiwara semacam itu.”
Kementerian itu memperingatkan akan melakukan “tindakan balasan segera dan kuat” jika "satu langkah pasukan atau tindakan sekecil apa pun" dari Korea Selatan "melampaui perbatasan bahkan satu milimeter pun untuk melanggar wilayah kami.”
Pyongyang menyebut garis demarkasi tersebut sebagai perbatasannya dan meningkatkan upaya untuk menanam ranjau darat serta memasang kawat berduri di sisi utara Zona Demiliterisasi.
Militer Korea Selatan meyakini ranjau darat yang baru ditemukan tersebut merupakan bagian dari upaya itu.
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan