NADIKABAR.COM — Pada 30 September 2026, di Miri, Sarawak, Prof. Rokhmin Dahuri menerima Aquaculture Lifetime Achievement Award dalam rangkaian ajang The 13th International Conference on Fisheries and Aquaculture (ICFA) 2026.
ICFA disebut sebagai konferensi akuakultur dan perikanan terbesar di Asia, dan penghargaan itu diberikan atas dedikasi panjang Rokhmin selama puluhan tahun.
Bagi dunia akuakultur, itu penghargaan seumur hidup. Bagi saya, sahabatnya, itu penutup indah dari perjalanan yang pernah melewati lorong paling gelap.
Rokhmin lahir di kampung nelayan Gebang Ilir, Cirebon. Ibunya pedagang ikan di pasar, dan sejak kecil ia membantu orang tuanya menangkap ikan, mengasinkannya, lalu menjualnya ke Cirebon, Kuningan, Bandung, dan Bogor. Laut baginya bukan teori di ruang kuliah, melainkan kampung halaman.
Dari sanalah ia menempuh pendidikan hingga IPB dan meraih gelar doktor dari Dalhousie University, Kanada, pada 1991. Ia kemudian mendirikan Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan di Pascasarjana IPB.
Di ranah organisasi profesi, ia mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pakar Masyarakat Perikanan Nusantara (MPN), serta aktif di Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI) dan Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia (ISOI). Sejak 2011, ia memimpin Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI). Pesannya tak pernah berubah: ilmu tidak boleh berhenti di ruang akademis, ia harus turun ke dermaga, tambak, dan kampung nelayan.
Kiprahnya berlanjut saat ia dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil pada 1999 hingga 2001, sebelum akhirnya dilantik sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan.
Kepala Negara kala itu memberi mandat tegas: sektor kelautan harus menjelma sebagai pilar unggulan yang menyejahterakan nelayan, pembudidaya, serta seluruh masyarakat pesisir.
Puncak dari gagasannya mewujud dalam Gerakan Nasional Pembangunan Kelautan (Gerbang Mina Bahari). Dicanangkan langsung oleh Presiden Megawati Soekarnoputri pada 23 Juli 2003 di Teluk Tomini, gerakan ini menempatkan ekonomi bahari sebagai mesin penghela perekonomian nasional.
Rangkaian program terobosannya langsung menyentuh urat nadi kehidupan rakyat kecil. Mulai dari penyediaan SPBN untuk nelayan, Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP), Kelompok Usaha Bersama (KUB) Mina, Kedai Pesisir, integrasi sistem rantai dingin, pembangunan pasar ikan higienis, Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), hingga penguatan COREMAP.