Di Meksiko, awal November identik dengan Día de los Muertos atau Hari Orang Mati, sebuah perayaan untuk mengenang anggota keluarga dan orang terkasih yang telah meninggal dunia.

Perayaan ini umumnya berlangsung pada 1 dan 2 November. Meski waktunya berdekatan dengan Halloween, Día de los Muertos memiliki sejarah dan makna budaya tersendiri sehingga tidak bisa dianggap sebagai perayaan yang sama.

Salah satu tradisinya adalah membuat ofrenda, yaitu altar untuk mengenang orang yang telah meninggal. Altar tersebut biasanya dihiasi foto, lilin, bunga marigold berwarna cerah, serta makanan dan minuman kesukaan mendiang.

Keluarga juga dapat mengunjungi makam, membersihkannya, membawa bunga, dan berkumpul untuk mengenang kenangan bersama orang yang telah tiada.

Berbeda dari citra Halloween yang kerap menonjolkan suasana horor, Día de los Muertos lebih menekankan hubungan keluarga, kenangan, dan penghormatan terhadap leluhur.

4. Jepang: Parade kostum dan kreativitas

Di Jepang, Halloween berkembang sebagai acara hiburan modern yang banyak diwarnai kegiatan bertema kostum dan karakter populer.

Masyarakat, terutama anak muda, dapat mengenakan kostum yang terinspirasi dari anime, manga, gim, film, hingga tokoh fantasi. Sejumlah acara khusus juga digelar di pusat hiburan dan kawasan perkotaan.

Berbeda dengan kebiasaan di Amerika Serikat, tradisi meminta permen dari rumah ke rumah tidak menjadi bagian utama perayaan Halloween di Jepang.

Kegiatan berkostum dan berkumpul dalam acara bertema Halloween justru lebih menonjol. Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah perayaan dari luar negeri dapat diadaptasi menjadi kegiatan hiburan yang sesuai dengan budaya populer setempat.

Meski demikian, bentuk dan skala perayaan dapat berbeda di setiap kota serta bergantung pada aturan penyelenggaraan acara.

5. Guatemala: Festival layang-layang raksasa

Guatemala memiliki tradisi menarik untuk mengenang orang yang telah meninggal melalui festival Barriletes Gigantes atau festival layang-layang raksasa.

Festival ini umumnya diselenggarakan pada 1 November, bertepatan dengan Hari Semua Orang Kudus. Salah satu lokasi yang dikenal dengan tradisi tersebut adalah Santiago Sacatepéquez.

Layang-layang berukuran besar dibuat dengan tangan menggunakan kertas berwarna-warni dan dihiasi pola serta gambar yang memiliki makna budaya. Layang-layang kemudian diterbangkan di area pemakaman atau tempat berkumpul masyarakat.

Dalam tradisi setempat, layang-layang memiliki makna simbolis yang berkaitan dengan hubungan antara orang yang masih hidup dan mereka yang telah meninggal.