Namun, roda kehidupan terus berputar. Seiring menjamurnya pedagang serupa di kawasan wisata tersebut, pendapatan Asim perlahan menyusut. Persaingan yang kian ketat memaksanya memutar otak hingga akhirnya ia memutuskan untuk berpindah lokasi ke pinggir jalan raya sejak tiga tahun lalu.
"Sebabnya karena banyak yang mengikuti, jadi banyak yang juga pada pedagang tahu gejrot di situ. Dulu kan di Cibulan nah Mangkal di sini baru 3 tahun. Menurun sekarang paling habis 30 porsi sekitar Rp 300 ribuan sehari. Harganya Rp 10.000 per porsi. Buka dari jam 8 pagi sampai 5 sore," tutur Asim.
Meski omzetnya tak lagi sedahsyat dulu, Asim pantang menyerah. Ia tetap menjaga kualitas rasa dengan teknik yang unik. Salah satu rahasianya terletak pada wadah atau cobek tanah liat yang ia gunakan. Berbeda dengan cobek biasa yang berwarna merah, cobek milik Asim berwarna hitam pekat karena melalui proses pembakaran khusus dengan gula merah.
Menurutnya, proses ini bukan sekadar estetika, melainkan cara agar cairan manis gurih dari bumbu tahu gejrot bisa meresap sempurna ke dalam pori-pori wadah, menciptakan aroma dan rasa yang lebih dalam.