NADIKABAR.COM — Pada akhir era 1990-an dan awal 2000-an, prosesor AMD Athlon --khususnya yang berbasis inti Thunderbird dengan soket Slot-A dan Socket A (Socket 462)-- menjadi primadona di kalangan enthusiast PC.
Selain performanya yang bersaing ketat dengan Intel, Athlon memiliki satu keunikan ikonik: pengunci performanya (multiplier) bisa dibuka kembali hanya dengan coretan pensil.
Fenomena DIY ini dikenal di kalangan overclocker dunia sebagai 'Pencil Trick'.
Untuk mencegah vendor komputer nakal mematok kecepatan tinggi (overclocking) pada chip murah lalu menjualnya kembali sebagai model high-end dengan harga mahal, AMD mulai mengunci multiplier prosesornya.
Kunci ini diterapkan secara fisik di pabrik menggunakan teknologi tembakan laser untuk memotong jalur koneksi tembaga berukuran sangat kecil di permukaan chip yang dikenal sebagai jembatan L1 (L1 bridges).
Tak butuh waktu lama bagi para overclocker untuk menemukan celah dari metode penguncian tersebut:
Kemudahan pencil trick mulai menemui jalan buntu saat AMD memperbarui arsitektur jajaran Athlon, terutama ketika bertransisi dari kemasan keramik ke PCB organik pada inti Palomino (prosesor Athlon XP):
Meski teknologi fabrikasi dan penguncian prosesor modern kini jauh lebih kompleks, pencil trick tetap dikenang sebagai salah satu bentuk rekayasa DIY paling ikonik dalam sejarah perkembangan hardware PC, demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Jumat (9/10/2026).