Prof Thomas Gernon dari University of Southampton, selaku penulis utama penelitian, menjelaskan bahwa penurunan CO2 saja tidak cukup kuat untuk menjelaskan mengapa kedua kutub memiliki respons yang berbeda.
"Jika penurunan kadar CO2 terjadi sendirian, Anda akan mengharapkan kedua kutub merespons secara lebih simetris," ujarnya seperti dikutip dari SpaceDaily.
Menurut Gernon, Antartika memiliki 'keunggulan' karena proses geologi telah mengangkat daratannya ke tempat yang lebih tinggi dan dingin. Hal inilah yang menjelaskan mengapa Kutub Utara tidak mengalami pembentukan lapisan es permanen dalam periode waktu yang sama.
Perbedaan geografis juga memegang peran kunci. Antartika adalah benua yang dikelilingi lautan luas, sedangkan Kutub Utara berada di kawasan Samudra Arktik. Dengan kata lain, bentuk fisik Bumi ikut menentukan kapan sebuah wilayah mulai membeku.
Dalam studi ini, para peneliti menggunakan pemodelan komputer canggih untuk merekonstruksi perubahan Antartika selama 100 juta tahun. Mereka menggabungkan model geologi, perubahan ketinggian daratan, kondisi iklim, hingga simulasi perkembangan lapisan es.
Hasilnya membuktikan bahwa pengangkatan daratan akibat proses internal Bumi menciptakan lokasi ideal bagi es untuk mulai tumbuh. Begitu es terbentuk, proses pendinginan semakin kuat berkat efek albedo.
Permukaan es yang putih bersih memantulkan lebih banyak energi matahari kembali ke angkasa, berbeda dengan tanah atau batuan gelap yang justru menyerap panas. Dalam simulasi tersebut, pertumbuhan lapisan es ini bahkan ikut menyumbang penurunan suhu global sekitar 1 derajat Celsius.