Nanopartikel logam memiliki interaksi unik dengan cahaya matahari. Logam merupakan penghantar listrik yang sangat baik karena muatan listriknya (elektron) mudah digerakkan oleh medan listrik.

Di bawah cahaya matahari - yang merupakan gelombang medan listrik bergerak - muatan listrik nanopartikel logam ikut berayun selaras mengikuti gelombang cahaya. Ayunan selaras ini disebut resonansi plasmonik, sehingga muncullah istilah nanopartikel plasmonik.

Analoginya, gelombang cahaya mengayun muatan listrik sebagaimana jari kita memetik senar gitar. Muatan listrik nanopartikel dan senar gitar sama-sama berayun dengan frekuensinya masing-masing, yang satu dalam bentuk warna sementara yang satu lagi dalam bentuk nada.

Senar dengan bahan, panjang, dan ketebalan berbeda menghasilkan nada berbeda. Demikian pula, material, ukuran, dan bentuk nanopartikel menentukan frekuensi cahaya yang diserap atau dihamburkan, dan akhirnya warna apa yang terlihat.

Contohnya, nanopartikel emas berukuran 50 nanometer bewarna merah cerah sementara nanopartikel perak dengan ukuran sama bewarna kuning terang.

Fenomena plasmonik kini tidak hanya digunakan untuk seni keindahan saja. Sifat tersebut dimanfaatkan dalam sensor, sel surya, perangkat optoelektronik, katalis dan sejumlah pendekatan diagnosis dan terapi. Salah satu penerapannya ditemukan pada alat tes kehamilan yang lazim menggunakan nanopartikel emas untuk menghasilkan garis berwarna.