NADIKABAR.COM — Video sejumlah ambulans yang mendatangi sebuah SPBU di Desa Kadilangu, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo viral di media sosial (medsos). Ambulans itu disebut ramai-ramai mendatangi SPBU itu gegara tak bisa mengisi Pertalite.

Dalam unggahan akun Instagram @wonogirikita, disebutkan aksi itu berawal dari sebuah ambulans tidak bisa mengisi Pertalite. Peristiwa itu terjadi pada Senin, 31 Agustus 2026 pukul 11.50 WIB.

"Sejumlah unit ambulans mendatangi SPBU Kadilangu, Sukoharjo, pada Senin (31/8/2026). Kedatangan sejumlah ambulans tersebut berkaitan dengan persoalan pelayanan pengisian BBM jenis Pertalite. Hal itu karena salah satu ambulans disebut hendak mengisi Pertalite di SPBU tersebut. Namun, kendaraan itu dikabarkan tidak dilayani karena tampilan atau branding pada ambulans telah mengalami perubahan," tulis dalam caption video tersebut di akun Instagram @wonogirikita, dikutip Selasa (1/9/2026).

Ketua relawan Sedekah Bareng (Saber) Wirawan saat dimintai konfirmasi membenarkan kejadian tersebut. Dia menceritakan hal itu bermula saat salah satu ambulans ditolak mengisi Pertalite karena ketidakcocokan foto kendaraan pada barcode MyPertamina dengan kondisi kendaraan.

"Ambulanku setelah melaksanakan giat di RS Kustati, ada telepon lagi untuk menjemput pasien emergensi lagi dari Gawok (Sukoharjo) ke RS Moewardi (Solo). Karena bensinnya mepet, saat melintas SPBU Kadilangu mau mengisi," kata Wirawan saat dihubungi NadiKabar, Selasa (1/9).

Ambulans Saber itu berniat mengisi bensin di SPBU di Desa Kadilangu karena bensinnya nyaris habis. Selama ini disebutkan tak pernah ada kendala saat mengisi BBM bersubsidi dengan barcode dan kendaraan yang ada.

"Memang barcode itu dibuat pertama tahun 2022, dengan foto ambulansku zaman itu dengan branding oranye garis-garis. Setelah beberapa tahun, sudah berubah branding, dan sekarang dipermasalahkan karena tidak sesuai dengan foto," jelasnya.

Wirawan menjelaskan kala itu sopir ambulans diminta petugas SPBU untuk mengupdate foto sesuai dengan kendaraan saat ini. Namun, proses update foto itu bakal memakan waktu lama, karena harus daftar ulang dan akun lama dihapus.

Dijelaskan jika proses tersebut akan memakan waktu sekitar seminggu, sehingga sopir ambulans keberatan karena harus segera menjemput pasien. Sementara petugas SPBU sudah terlanjur melakukan scan barcode.

"Kalau sudah terlanjut di-scan, untuk mengisi lagi harus menunggu jeda 2 jam di SPBU lain. Lalu sopirku laporan ke saya, saya buat status dan saya coba menghubungi pengawasnya (SPBU Kadilangu). Tapi teman-teman (ambulans) terlanjut mendatangi SPBU," terangnya.

Sejumlah relawan ambulans kemudian datang ke SPBU Kadilangu pukul 13.30 WIB untuk meminta penjelasan. Sementara itu, ambulans Saber harus menunggu dua jam untuk bisa mengisi Pertalite di SPBU yang lain.

Oleh karena urung mengisi bensin di SPBU itu, ambulans tersebut batal menjemput pasien di Gawok. Pasien tersebut akhirnya dijemput dengan ambulans lainnya.

"Intinya mereka sudah melakukan klarifikasi, dan menyampaikan permohonan maaf karena terjadi kesalahpahaman. Ke depannya SPBU tersebut akan memprioritaskan ambulans. Kita berpedoman pada Undang-undang Migas jika ambulans dapat prioritas mengisi Pertalite atau biosolar tanpa memperhatikan cc," ujarnya.

Pengawas SPBU Kadilangu Udin buka suara soal permasalahan ini. Menurutnya, kasus ini sudah diselesaikan secara kekeluargaan.

Dia menyebut jika kedatangan rombongan ambulans itu hanya meminta klarifikasi. Pihaknya pun sudah melaporkan kejadian ini ke Pertamina.

"Sudah selesai. Kita (sepakati) pelayanan, kalau ada perbedaan selama plat dan barcodenya sama untuk dilayani. Karena untuk ambulan kan ada perlakuan khusus," kata Udin.

Pihaknya juga meminta maaf atas pelayanan ini. Ke depan, pihaknya berjanji untuk memperbaiki pelayanan.

"Saya mohon maaf untuk pelayanan, mungkin operator kurang (paham). Untuk ke depan insyaallah, hal-hal seperti ini tidak akan terjadi lagi, karena ambulans kan untuk kebutuhan kita bersama, untuk kemanusiaan juga. Sudah diatur juga jika ambulans, mobil sampah, mobil pemadam kebakaran kalau urgent sekali tetap kita bantu," tuturnya