"Kalau Betawi bilang bukan balai, bale. Jadi ini bale kota, bale-nya masyarakat, bukannya bale kita," ujarnya.

Menurut Rano, dalam budaya Betawi, rumah yang memiliki bale identik dengan keramahan dan keterbukaan dalam menerima tamu. Filosofi tersebut ingin dihadirkan di lingkungan Balai Kota Jakarta agar masyarakat merasa diterima.

Dia pun berharap Namu Balai Kota bisa menjadi jembatan yang mempertemukan pemerintah dengan warga Jakarta.

"Semoga Namu Balai Kota ini dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan antara pemerintah daerah dengan warganya," ucap Rano.

Rano mengatakan Namu Balai Kota tidak hanya menghadirkan informasi mengenai program pemerintah. Program ini juga menyediakan berbagai aktivitas, mulai dari layanan publik hingga kegiatan seni dan budaya.