Rano mengatakan pelaksanaan program masih akan terus disempurnakan. Ia berharap Namu Balai Kota menjadi salah satu kegiatan yang dapat dinikmati masyarakat menjelang peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027.

"Tentu kegiatan ini baru kita mulai, pasti tidak akan sempurna. Tapi setiap kali kita akan terus menyempurnakan. Apalagi, Bapak-Ibu sekalian, insyaallah tahun depan kita akan berusia 500 tahun," kata Rano.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi menjelaskan Namu Balai Kota dirancang untuk membuka ruang-ruang pemerintahan sebagai ruang publik yang dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pada akhir pekan.

"Namu Balai Kota ini membuka pintu-pintu ruang Balai Kota sebagai ruang publik bagi warga untuk mengenal lebih dekat pusat pemerintahannya, dan dipakai untuk kebutuhan masyarakat Kota Jakarta," kata Marulina dalam kesempatan sama.

Marulina mengatakan program tersebut telah diuji coba pada 3 Oktober 2026 dan diikuti sekitar 300 pengunjung yang mendaftar melalui aplikasi JAKI dan situs Jakarta.go.id. Pendaftaran diterapkan untuk mendata pengunjung sekaligus menjaga kondisi bangunan yang memiliki nilai sejarah.

Berdasarkan hasil uji coba, Pemprov DKI berencana melanjutkan Namu Balai Kota setiap dua minggu sekali selama 2026. Pelaksanaannya melibatkan berbagai pihak, antara lain Himpunan Pramuwisata Indonesia, komunitas Abang None, Jakarta City Branding, serta organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta.

Dalam program ini, pengunjung dapat mengikuti tur yang menyusuri sejumlah area, mulai dari Pendopo hingga bagian lain kompleks Balai Kota, termasuk Blok G. Anak-anak juga bisa mengikuti kegiatan Kids on Air di Studio Berita Jakarta untuk mencoba pengalaman menjadi reporter dan mengenal proses produksi berita.