Ekspansi tersebut juga membuat skala neraca perseroan meningkat. Total aset RATU naik 212,30% secara tahunan menjadi USD 237.38mn dan investasi pada entitas asosiasi melonjak +1,626.70% menjadi USD 130.12mn.
Di sisi lain, pendanaan akuisisi melalui utang membuat beban keuangan meningkat 351,10%. Total liabilitas RATU juga naik 702,50% menjadi US$155,79 juta.
ERAL atau Erajaya Active Lifestyle juga mencatat pertumbuhan kinerja hingga kuartal III-2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp193,84 miliar, naik 55,08% dari Rp124,99 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penjualan ERAL tumbuh 44,71% menjadi Rp6,21 triliun. Pertumbuhan tersebut salah satunya ditopang oleh bisnis otomotif yang mencatat kenaikan sangat tinggi.
Pendapatan segmen otomotif melonjak 784% secara tahunan menjadi Rp1,99 triliun dari sebelumnya Rp225,24 miliar. Kontribusinya kini mencapai sekitar 32% dari total penjualan ERAL.
Pertumbuhan tersebut turut mengubah komposisi bisnis perseroan. Sebelumnya, penjualan lebih banyak berasal dari segmen aksesoris dan IoT sebesar Rp2,36 triliun serta fashion apparel sebesar Rp1,25 triliun.
Dari sisi profitabilitas, laba kotor ERAL tumbuh 47,54%. Namun, ekspansi tersebut juga diikuti peningkatan biaya. Beban penjualan dan distribusi naik 61,24%, sedangkan beban keuangan meningkat 68,78%.
Kinerja segmen otomotif selanjutnya menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan seiring ERAL memperluas skala bisnisnya, terutama dari sisi efisiensi biaya dan kemampuan mempertahankan margin.
BRIS menyiapkan aksi pembelian kembali saham atau buyback dengan dana maksimal Rp500 miliar. Dana tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.