NADIKABAR.COM — Hacker semakin kreatif dalam mencari korbannya. Dalam kasus terbaru ini, hacker mengincar jaringan supermarket yang ada di sejumlah negara di Eropa.

Aksi peretasan ini menyasar sistem pendingin di ratusan supermarket terkemuka di Prancis dan sekitarnya, memaksa pengelola toko membuang tumpukan bahan makanan segar yang membusuk akibat suhu pendingin diubah secara ekstrem oleh peretas.

Serangan siber ini sedikitnya berdampak pada sekitar 150 gerai supermarket Intermarché, kurang dari 100 gerai Cooperative U (Super U), serta sejumlah toko milik jaringan Leclerc.

Juru bicara Intermarché mengungkapkan bahwa peretas berhasil membobol sistem kontrol pendingin ruangan dan secara sengaja mengaktifkan mode pembersihan es (defrost mode). Mode ini memicu lonjakan suhu di dalam lemari pendingin hingga menyentuh 50 derajat Celsius.

Pengaturan suhu ekstrem tersebut berlangsung selama kurang lebih enam jam sebelum akhirnya disadari oleh para karyawan toko:

Usut punya usut, sistem kontrol pendingin yang menjadi sasaran peretasan di Intermarché dikelola oleh vendor teknologi Danfoss.

Kejadian ini seolah membenarkan peringatan dari peneliti keamanan siber di Team 82 beberapa bulan lalu. Dalam laporan risetnya, Team 82 sempat mempublikasikan keberadaan sejumlah celah keamanan kritis pada pengontrol refrigrasi Danfoss yang memungkinkan peretas mengambil alih kontrol suhu secara jarak jauh.

CEO Cooperative U, Dominique Schelcher, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerjunkan tim teknis ke seluruh jaringan toko untuk memperbaiki sistem sekaligus meluncurkan investigasi menyeluruh. Hingga saat ini, belum ada kelompok peretas yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Para pakar keamanan siber mengkhawatirkan bahwa aksi pembobolan kulkas supermarket ini merupakan langkah uji coba oleh kelompok peretas sebelum meluncurkan serangan yang lebih destruktif.

Jika taktik pengubahan suhu fisik ini digabungkan dengan serangan terhadap jaringan listrik atau fasilitas umum lainnya, dampaknya dapat merusak rantai pasokan pangan nasional secara masif, demikian dikutip NadiKabar dari Techspot, Rabu (14/10/2026).