NADIKABAR.COM — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Noorhaidi Hasan menyebut ada empat kemampuan berpikir manusia yang tidak boleh ditinggalkan dan menjadi fondasi pendidikan di zaman kecanggihan dan kehebatan teknologi artificial intelligence (AI).
Rektor Noorhaidi pada pidato ilmiah Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga di Yogyakarta, Senin, mengatakan, manusia harus mampu berpikir logis, mampu berpikir kritis, mampu berpikir kreatif, dan yang makin penting adalah manusia harus bertindak secara etis.
"Empat kemampuan ini, logical, critical, creative and ethical thinking menurut saya merupakan fondasi yang tidak boleh kita tinggalkan. Justru sebaliknya, semakin canggih AI, semakin penting kemampuan tersebut," katanya.
Menurut dia, di zaman yang serba canggih sekarang ini, tidak bisa menolak kehadiran dan kehebatan AI, karena AI dapat membaca jutaan halaman dalam hitungan detik, AI dapat menganalisis data dalam skala yang tidak mungkin dilakukan manusia secara manual.
AI juga dapat menghasilkan teks, gambar, musik, kode, bahkan membantu menemukan pola-pola baru dalam penelitian, karena itu yang menjadi pertanyaan adalah "Apa yang tetap harus dilakukan manusia ketika AI semakin mampu melakukan banyak hal?.
"AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menilai makna pola tersebut. AI dapat menghasilkan banyak pilihan, tapi manusia harus menentukan mana yang benar, adil dan bermartabat, AI dapat mempercepat keputusan, tapi manusia harus mempertanggungjawabkan konsekuensi dari keputusan itu," katanya.
Lebih lanjut Rektor menilai pelajaran yang relevan bagi kampus bukan terletak pada kecanggihan teknologi semata, melainkan pada kemampuan mengubah pengetahuan menjadi sesuatu yang dapat diterapkan.
"Saya melihat sesuatu yang mungkin selama ini hanya kita saksikan melalui layar televisi atau media sosial, bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi," katanya.
Dia juga mengatakan, perguruan tinggi telah menghasilkan penelitian, jurnal, buku, dan lulusan yang seluruhnya merupakan bagian penting dari akademik, namun tantangan berikutnya menghubungkan hasil kerja itu dengan inovasi, penerapan, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
"Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak," katanya.
Hal itu sejalan dengan tema Dies Natalis ini "Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global", keunggulan tidak berhenti pada pengakuan atas mutu kampus, namun menjadi dasar lahirnya gagasan dan karya yang mampu menjawab persoalan, digunakan lebih luas, serta memberi kontribusi bagi universitas.
"Universitas masa depan tidak ditentukan semata oleh gedung pintar, namun manusia yang cerdas berpikir. Karena itu, universitas harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi sambil mengembangkan kualitas manusia yang menggunakannya," katanya.