NADIKABAR.COM — Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) tengah menjalani renovasi untuk memperkuat struktur lapangan atau Field of Play (FOP). Biaya perbaikan tersebut diperkirakan mencapai Rp 10 miliar.

Direktur Pembangunan dan Pengembangan Usaha PPKGBK, Mokhamad Rofik Anwar, menjelaskan dana renovasi tidak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Biaya tersebut menggunakan pendapatan PPKGBK dari pengelolaan dan penyewaan fasilitas GBK.

"GBK ini (berstatus) BLU (Badan Layanan Umum) sehingga pendapatan yang kami peroleh dari sewa-sewa, seperti dari sewa stadion, olahraga, maupun yang lain, itu kami kelola sendiri," kata Rofik dalam jumpa pers di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

"Nah duitnya itu buat apa? Buat proyek-proyek seperti ini, pemeliharaan di GBK. Jadi bukan duit dari APBN. Itu adalah duit dari hasil pengelolaan pendapatan yang diterima oleh GBK, PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) kita, gitu."

Rofik menyebut nilai perbaikan tersebut cukup besar. Ia mengibaratkannya setara dengan pendapatan dari sekitar dua kali penyelenggaraan konser.

"Berapa nilainya? Ya... cukup besar. Ya sekitar dua kali konser lah kalau dibilang," ujarnya.

Menurut Rofik, penguatan struktur lapangan FOP merupakan investasi untuk jangka panjang. Perbaikan tersebut diharapkan mendukung pemanfaatan lapangan SUGBK untuk kegiatan, termasuk konser, pada tahun-tahun mendatang. "Artinya sudah bisa, gitu ya. Karena investasi," tegasnya.

Sementara itu, Direktur Utama PPKGBK, Rakhmadi A. Kusumo, memperkirakan biaya perbaikan sekitar Rp 10 miliar tersebut dapat kembali melalui penyelenggaraan dua konser.

"Tadi Pak Direktur PDU sudah menyatakan angkanya kurang lebih sampai Rp10 miliar. Dengan demikian, ya dengan ada dua konser saja insyaallah sudah balik modal sebenarnya," ujarnya.

Meski demikian, Rakhmadi menegaskan PPKGBK tidak hanya mengejar pengembalian biaya renovasi. Mereka juga ingin memastikan waktu pemulihan lapangan atau recovery time bisa semakin singkat sehingga lapangan dapat digunakan kembali lebih cepat setelah kegiatan besar.

"Tetapi kami juga perlu memastikan, enggak cuma dua kali dong, kami ingin long-lasting dan bahkan time-nya, recovery time-nya lebih cepat lagi, lebih cepat lagi."

Rakhmadi berharap proses perbaikan dapat berjalan lancar dengan dukungan seluruh pihak. Ia mencontohkan pengalaman Singapura dalam mempercepat waktu pemulihan lapangan setelah digunakan untuk kegiatan besar.

"Kita bisa lihat juga di Singapura pernah mengalami hal yang sama: recovery-nya dua bulan, ke sebulan, empat minggu, dua minggu. Kami juga akan menuju ke sana. Makanya, tidak hanya dari kuantitas uangnya yang pasti juga akan kembali, tapi juga dari sisi recovery time yang ingin diselamatkan lebih cepat lagi," kata Rakhmadi.