Gatot menyebut Partiyem telah menerima kejadian tersebut sebagai musibah. Akibat kejadian tersebut pemilik sapi mengalami kerugian sekitar Rp 15 juta

"Meski mengalami kerugian besar, pemilik sapi menyatakan telah ikhlas dan menerima peristiwa ini murni sebagai musibah," ucapnya.

Kasus ternak mati ini pun menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul. DPP Gunungkidul melakukan surveilans untuk mengetahui penyebab tewasnya ternak warga tersebut.

"Benar, telah terjadi gigitan hewan ternak di Tepus I, Tepus, Gunungkidul. Hari ini, tadi kami segera respons ke lokasi untuk surveilans," kata Kabid Kesehatan Hewan DPP Gunungkidul Retno Widyastuti saat dihubungi detikJogja, Kamis (3/9).

Menurutnya, serangan terhadap ternak sering terjadi saat musim kemarau. Dari catatannya kejadian ini terjadi sejak 2019 lalu. Pihaknya menduga serangan ini dilakukan oleh anjing liar.

"Mungkin sumber pakan alami sudah habis, sumber air juga sudah kering dan hewan-hewan karnivora itu lalu mencari makanan ke kandang ternak itu," ucapnya.

Pihaknya pun mengimbau pemilik ternak untuk memindahkan ternaknya ke dekat rumah. Dia juga mengingatkan jika berniat memelihara ternak di ladang, maka membuat kandang yang kuat.

"Bisa juga buat kandangnya dicor sampai bawah dan atasnya dibuat lebih kokoh. Kenapa? Agar hewan tidak bisa menggali tanah lalu masuk ke kandang ternak," pesan Retno.