mereka teringat bahwa Allah adalah gunung batu mereka, dan bahwa Allah Yang Mahatinggi adalah Penebus mereka.

Tetapi mereka memperdaya Dia dengan mulut mereka, dan dengan lidahnya mereka membohongi Dia.

Hati mereka tidak tetap pada Dia, dan mereka tidak setia pada perjanjian-Nya.

Tetapi Ia bersifat penyayang, Ia mengampuni kesalahan mereka dan tidak memusnahkan mereka; banyak kali Ia menahan murka-Nya dan tidak membangkitkan segenap amarah-Nya.

Tidak ada seorangpun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.

Kekuatan iman tidak akan tampak pada masa-masa indah dan mudah. Iman hanya dapat dibuktikan ketika manusia berada dalam kesulitan dan penderitaan, saat berada di jalan terjal seperti tak berujung, saat mengalami derita seperti tak berkesudahan.

Pada momen-momen seperti itulah kekuatan iman akan bisa terlihat jelas. Apakah pada titik itu manusia tetap setia mengikuti Tuhan? Apakah ia sanggup tetap mengingat perbuatan-perbuatan baik Tuhan dalam hidupnya dahulu?

Ada orang yang ingin ikut Yesus karena terpukau setelah mendengarkan kesaksian tentang betapa baiknya Tuhan dalam hidup manusia. Ada juga yang memilih menjadi Katolik karena kagum akan keindahan gereja dan tradisi Katolik.

Mereka tahu tentang salib, kisah penyaliban Yesus, bahkan mungkin menggantungkan salib di dada mereka. Namun, ketika kesulitan dan penderitaan datang, mereka tidak sabar dan meragukan, "Di mana Tuhan? Mengapa Tuhan tidak adil? Mengapa doa-doaku tidak didengarkan dan tidak dikabulkan?"