Mereka sama seperti orang Israel yang bersungut-sungut saat dipimpin Musa keluar dari Mesir. Mereka tidak sungguh-sungguh mengerti akan makna salib.
Bukan sekadar hiasan, salib memiliki banyak makna. Salib bisa menjadi tanda identitas diri kita sebagai orang Katolik, para pengikut Yesus.
Salib adalah simbol penderitaan dan hinaan yang harus ditanggung Yesus, namun sekaligus merupakan simbol kekuatan dan kemenangan. Salib juga merupakan bukti besarnya cinta dan solidaritas Allah terhadap penderitaan manusia.
Ketika memandang salib, kita diingatkan kembali bahwa Tuhan tidak pernah berada jauh dari kita. Ia selalu hadir bahkan dalam penderitaan manusia.
Ada orang yang ingin ikut Yesus dan memilih menjadi Katolik, tetapi masih berusaha menolak salib. Salib yang dipikul Yesus sepanjang jalan di Yerusalem hingga ke Bukit Golgota merupakan salib yang sama yang harus dipikul setiap pengikut-Nya sepanjang jalan kehidupan hingga ke kematian.
Namun, salib bukan sekadar simbol penderitaan. Salib juga tanda kemuliaan. Ingat, Yesus ditinggikan dan dimuliakan di atas kayu salib.
Hari ini, kita merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci. Perayaan ini dikaitkan dengan penemuan kayu salib Yesus yang asli oleh Santa Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus Agung.
Mari kita renungkan kembali makna salib Kristus. Dari simbol kehinaan dan penderitaan, salib menjadi simbol harapan dan kemenangan yang membawa jalan keselamatan Tuhan.
Jika hari ini kita masih berjalan memanggul derita, janganlah kita kemudian melupakan kebaikan dan perbuatan-perbuatan Tuhan. Di ujung jalan salib selalu ada kemenangan.
Bila kita masih merasa berada di tempat yang sangat rendah, percayalah bahwa pada akhirnya orang-orang yang setia mengikuti-Nya akan ikut ditinggikan oleh-Nya.
Sumber: Buku Inspirasi Pagi (LBI)Oleh: Budi Ingelina
Itulah renungan harian Katolik Senin, 14 September 2026 lengkap dengan bacaannya. Semoga bermanfaat!