NADIKABAR.COM — Bursa Efek Indonesia (BEI) buka suara terkait dugaan intervensi Singapura di balik pernyataan MSCI status bursa saham Indonesia bisa turun ke standalone market. Status pasar modal Indonesia terancam turun kasta dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengatakan, pihaknya tetap meyakini bahwa lembaga penyedia indeks global bekerja secara independen. Oleh karena itu, ia menyebut memilih fokus pada langkah-langkah teknis untuk memperbaiki pasar modal Indonesia.
"Kami akan sangat fokus kepada hal teknis dan kami selalu meyakini dan tetap percaya bahwa global index provider selalu independen," ujar Jeffrey saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Jeffrey menegaskan, BEI akan terus menjalankan berbagai upaya reformasi pasar modal. Langkah tersebut menjadi fokus utama BEI dalam merespons usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI.
"Jadi, oleh karena itu, kami akan fokus saja kepada hal-hal teknis yang bisa kami lakukan dalam upaya mereformasi pasar modal," tambah Jeffrey.
Diberitakan sebelumnya, Mantan Menteri Perdagangan Indonesia, Muhammad Lutfi angkat bicara terkait MSCI membuka opsi menurunkan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market
Dia menilai ancaman penurunan status tersebut terjadi karena adanya campur tangan Singapura. Institusi investasi Singapura, Temasek dan Government of Singapore Investment Corporation (GIC), memiliki pengaruh besar terhadap MSCI.
Bahkan, dirinya mengaku mendapat informasi bahwa Rachel Goh dari GIC menekan MSCI agar menurunkan status pasar modal Indonesia. Tujuannya untuk memicu kepanikan di pasar saham agar investor asing bisa kembali membeli saham Indonesia dengan harga murah.
Pasalnya, Lutfi menilai status Standalone Market diperuntukkan bagi negara yang menerapkan capital control atau pembatasan arus modal. Sementara bagi Lutfi, hal ini tidak terjadi di Indonesia.
"Apakah Indonesia menerapkan capital control? Sama sekali tidak. Lalu, kenapa Singapura lewat institusi raksasa mereka seperti Temasek dan GIC yang punya pengaruh besar di MSCI begitu ngotot menekan Indonesia? Bahkan saya dapat kabar langsung di dalam, Rachel Goh di GIC yang marah-marah dan menekan MSCI supaya peringkat Indonesia diturunkan," ujarnya dikutip dari Instagram pribadinya, Selasa (20/10/2026).