"Kita bakal ada hydro, yang protein juga nanti ada," ujarnya.
Pilihan menu juga dibuat dengan mempertimbangkan kapasitas produksi. Misalnya, tiramisu hanya dibuat dalam jumlah terbatas karena menggunakan bahan yang sensitif seperti mascarpone.
Menu dengan truffle juga stoknya dibatasi mengingat harga bahan tersebut cukup tinggi dan karakter rasanya tidak selalu cocok untuk semua orang.
Menariknya, konsep wellness di Verde Social Garden tidak berarti semua hidangan harus dikategorikan sebagai makanan diet. Bahkan hidangan seperti tiramisu tetap tersedia, dengan catatan restoran memberikan informasi mengenai kandungan alkohol di dalamnya.
Chef Leon mengatakan tiramisu yang disajikan menggunakan Kahlua dalam larutan kopinya. Karena itu, staf restoran akan memberikan penjelasan kepada tamu sebelum pesanan dibuat.
"Kalau ada yang mau order tiramisu, kita jelaskan dulu ini ada kandungan alkoholnya. Kalau tidak mau pakai alkohol bisa, cuma rasanya mohon maaf tidak sesuai yang bapak atau ibu ekspektasikan," katanya.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana Verde Social Garden mencoba menerjemahkan konsep wellness secara lebih fleksibel. Traveler tetap dapat menikmati pasta, pizza, hingga tiramisu, tetapi dengan perhatian lebih besar terhadap kualitas bahan, proses pengolahan, porsi, dan kandungan makanan.
Kehadiran Verde Social Garden di Alana Hotel & Convention Center pun memberikan alternatif bagi traveler yang ingin menikmati kuliner Italia tanpa harus meninggalkan perhatian terhadap pola makan selama perjalanan.
Bagi Chef Leon, wellness pada akhirnya bukan tentang membatasi makanan secara berlebihan, melainkan memahami apa yang dikonsumsi dan menjaga keseimbangannya.
"Kalau itu real food, sebenarnya sudah healthy. Yang penting jangan berlebihan," pungkasnya.