NADIKABAR.COM — Utusan Khusus Sekjen PBB untuk Air, Retno Marsudi, menilai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 6 (SDGs 6), yakni Air Bersih dan Sanitasi, masih belum sesuai jalur; sehingga perlu penguatan komitmen dan implementasi untuk mengejar target tersebut.

Dalam acara Indonesia International Sustainability Forum di Jakarta, Selasa, Retno menyampaikan SDGs 6 memiliki waktu lebih dari tiga tahun untuk menuju target 2030, tetapi kemajuan yang dicapai saat ini belum cukup untuk memastikan target tersebut tercapai.

"Komitmen saja tidak cukup, kemajuan masih terlalu lambat, dan tantangan utamanya adalah implementasi," kata Retno.

Dia mencatat sekitar tiga miliar orang berpotensi masih tidak memiliki akses terhadap sanitasi yang dikelola secara aman pada 2030.

Sementara itu, sekitar dua miliar orang diperkirakan masih tidak memiliki akses terhadap air minum yang dikelola secara aman, serta satu miliar orang masih tidak memiliki fasilitas mencuci tangan dengan sabun dan air di rumah.

Retno mencatat setidaknya ada lima kendala yang masih menahan kemajuan pencapaian SDGs 6, yakni pembiayaan proyek air yang belum memadai, regulasi dan standar yang terfragmentasi, keterbatasan data dan keahlian teknis, belum optimalnya penerapan solusi dalam skala yang dibutuhkan, serta lemahnya koordinasi antar-pemangku kepentingan.

Oleh karena itu, Konferensi Air PBB 2026, yang akan digelar di Abu Dhabi pada Desember nanti, menjadi momentum penting untuk mempercepat implementasi SDGs 6.

Konferensi yang diselenggarakan bersama pemerintah Uni Emirat Arab dan Senegal itu diharapkan dapat menggerakkan agenda air global dari sekadar komitmen menuju aksi dan hasil nyata.

Bagi Indonesia, lanjut Retno, hal itu juga membuka peluang konkret untuk membawa pengalaman dan prioritas Indonesia ke dalam diskusi global.

"Sekaligus menghubungkan Indonesia dengan kemitraan, investasi, teknologi, dan pengetahuan yang dapat memperkuat ketahanan air, ketahanan pangan, layanan air yang andal, serta pertumbuhan berkelanjutan," ucapnya.

Dia juga mengimbau agar seluruh pemangku kepentingan membangun agenda air global lebih berkelanjutan, lebih terhubung, dan lebih berfokus pada implementasi.

Menurutnya, tantangan dan solusi di sektor air telah banyak diketahui, tetapi langkah selanjutnya adalah memastikan solusi tersebut terhubung dengan investasi dan penguatan kapasitas.

"Dari Jakarta menuju Abu Dhabi dan seterusnya, mari kita bergerak dari pengakuan menuju implementasi dan dari komitmen menuju hasil nyata yang dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat," ujar Retno.