NADIKABAR.COM — Satu hal paling terasa dari Beautiful Pain adalah niat film yang dipayungi Nikita Mirzani dan Hanung Bramantyo ini dalam membawa pesan pemberdayaan perempuan, perlawanan melawan patriarki, pelecehan, juga kekerasan terhadap perempuan.
Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz Brodjonegoro tidak malu-malu menyampaikan cerita yang sepertinya diangkat dari kisah hidup Nikita Mirzani itu dalam rangkaian cerita layar lebar berdurasi 1 jam 39 menit ini.
Bagi mereka yang sudah mengikuti Nikita Mirzani sejak awal kemunculannya sampai saat kini tetap menjadi perbincangan, pasti sadar bagian-bagian cerita film ini yang mirip dengan pembahasan soal Nikita di area publik, bahkan termasuk responsnya menghadapi pertanyaan pancingan wartawan.
Meski begitu, Titien, Hanung, dan Dmaz terlihat berupaya lepas dari bayang-bayang nama Nikita dalam menggarap cerita Beautiful Pain sebagai upaya untuk bisa membumikan pesan dan misi yang mereka bawa.
Beruntungnya, mereka tidak sepenuhnya menghapus jejak dan citra Nikita Mirzani. Mereka memang menghapus sebagian bayang-bayang Nikita dan memutuskan mempertahankannya pada sebagian yang lain.
Keputusan tersebut terbilang tepat, mengingat Nikita Mirzani dengan segala 'huru-hara' yang menyertainya, adalah magnet pembicaraan di dunia showbiz serta punya banyak penggemar loyal yang mestinya menguntungkan dari segi bisnis.
Terlepas dari itu, Beautiful Pain memotret dengan jelas pengalaman perempuan dalam menghadapi hubungan personal yang bergejolak, yang memaksa mereka untuk berjuang seorang diri demi mimipi, harkat martabat, dan orang-orang yang penting baginya.
Sayangnya, entah keputusan kreatif atau bukan, pesan itu disampaikan dalam plot serta konflik karakter yang terlalu sederhana: seorang istri korban kekerasan dan perselingkuhan suami, menghadapi pelecehan di tempat kerja, dan berjuang bangkit sendiri.