Dramaturgi kurang mendalam inilah yang membuat Beautiful Pain lebih terlihat sebatas kisah Oh Mama Oh Papa versi layar lebar dan dibayangi nama besar Nikita Mirzani.

Meski begitu, Raihaanun dan Siti Fauziah menampilkan totalitas mereka dalam film ini selain Jajang C Noer. Seperti pada film-film sebelumnya, Siti Fauziah langsung bisa jadi scene stealer begitu muncul. Dinamika aktingnya ikut menyertai perkembangan Raihaanun dalam film ini.

Debut sebagai sutradara film panjang lewat proyek ini, Dmaz Brodjonegoro tampak masih berusaha menemukan caranya dalam menyampaikan cerita dalam bentuk gambar.

Entah Dmaz memang masih ingin mengeksplorasi berbagai gaya visual atau ia menyerahkan sepenuhnya urusan tangkapan kamera kepada Anggi Frisca, yang jelas Beautiful Pain tidak memiliki gambar secantik namanya.

Secara tone dan komposisi warna mungkin terlihat apik, tapi secara emosi cenderung hambar untuk gambar gerak selevel layar lebar, kecuali saat ada Jajang C Noer, Siti Fauziah, atau Raihaanun.

Belum lagi Dmaz memilih tidak membedakan dengan jelas momen Niken flashback selain daripada transisi editing sederhana. Selain itu kesalahan logika cerita juga masih muncul, seperti penggunaan antibiotik untuk kasus sakit gegara asam lambung dan menstruasi.

Namun seperti kata Jajang C Noer saat 'menasihati' Niken dalam Beautiful Pain, "tidak ada suami yang sempurna, tidak ada istri yang sempurna", begitu pula tidak ada film yang sempurna. Semua kembali pada tujuan asli film ini dibuat dan ditayangkan kepada publik.

Bila pada akhirnya film ini hanya sekadar menyampaikan cerita hidup Nikita Mirzani yang 'digeneralisasi' agar bisa relate dengan penggemarnya serta penonton perempuan kebanyakan, maka film ini mungkin sudah memenuhi visinya. Hanya saja, Beautiful Pain sebenarnya bisa dibuat lebih dari itu.