Tim penulis terasa tidak memberikan kedalaman cerita dan konflik berarti yang sebenarnya bisa menyempurnakan narasi serta menelanjangi akar masalah yang sebenarnya dihadapi: patriarki.

Tim penulis hanya menempatkan sumber masalah pada karakter yang dibawakan oleh Baim Wong sebagai Dirga, Tarra Budiman sebagai Rendy, dan Jajang C Noer sebagai ibunda Niken bernama Rahmania.

Kurangnya latar cerita dari ketiga karakter yang dibawa para aktor itu membuat film ini seperti terasa sinetron yang mengeksploitasi penderitaan Niken selaku karakter utama yang dibawakan Raihaanun.

Apalagi dari Baim, Tarra, dan Jajang, hanya Jajang C Noer yang memberikan dampak psikologis sebagai pesan dari film ini. Tak ada yang lebih menyeramkan dalam perjuangan perempuan melawan patriarki selain dari menghadapi perempuan patriarkis, apalagi berkedok demi kebaikan.

Karakter Dirga yang dibawakan Baim Wong semestinya yang paling mungkin memberikan damage effect terbesar, mengingat kasus kekerasan dalam rumah tangga adalah masalah yang paling mungkin bisa ditemukan sehari-hari.

Namun sayangnya Baim lebih banyak menampilkan sosok suami tidak beres, bermulut besar, dan 'pamrih' dengan mengulang-ulang nafkah yang sudah ia berikan kepada keluarganya.

Apalagi mengingat Dirga adalah pecandu, maka akan muncul rasionalisasi bahwa kekerasan yang dilakukan adalah dampak penggunaan obat. Atau, sebatas Niken salah pilih laki-laki sebagai suami.

Lebih dari itu, Dirga mestinya bisa dibuat selayaknya serigala berbulu domba, yang mana jenis karakter ini jauh lebih relate dalam kehidupan sehari-hari dan memberikan efek psikologis lebih besar mengingat film ini mengusung psychological drama.