Begitu pula dalam Fjord. Cristian Mungiu dengan kemampuan penuturannya yang sudah diakui, membawa penonton melihat sepenggal kehidupan keluarga, yang kalau dipikir sederhana, terlihat berada pada waktu dan tempat yang salah.

Tak ada banyak basa-basi pendahuluan, latar belakang, dan tetek bengek, Mungiu dengan percaya diri menempatkan penonton persis sesaat sebelum masalah terjadi.

Berkat kemampuan pria Romania kelahiran 1968 tersebut menulis cerita, penonton terbantu memahami secara perlahan semua latar belakang seiring menyusuri lapis demi lapis permasalahan.

Memang dalam perjalanan film ini, entah karena attention span yang semakin pendek di era digital atau panggilan alam ke toilet, ada saja riak-riak yang mengganggu kenikmatan menyusuri cerita Mungiu selama 2,5 jam.

Apalagi Mungiu juga menerapkan konflik ceritanya seperti danau di Norwegia yang direkam oleh Tudor Vladimir Panduru, tenang tanpa ada dinamisasi arung yang berarti. Ditambah, Panduru tak banyak memainkan efek kameranya dalam film ini, semuanya terlihat apa adanya tapi tetap terasa kedalamannya.

Bagi penikmat kisah penuh drama naik-turun nan haru-biru, jelas film ini mungkin akan dilewatkan begitu saja. Namun bagi mereka yang ingin cerita yang tenang tapi intens, seperti alam Norwegia dalam film ini, Fjord adalah suaka idaman.