Kisah dan visual Fjord yang sederhana tetapi mendalam juga didukung dengan penampilan Sebastian Stan dan Renate Reinsve. Keduanya tak menampilkan akting yang terlihat butuh usaha penuh. Bahkan, Stan terlihat lebih susah payah menjadi Bucky Barnes dibanding menjadi Mihai Gheorghiu.

Namun memang itulah yang diinginkan oleh Mungiu dalam Fjord. Ia hanya ingin menampilkan kisah serealis mungkin dan memberikan ruang kepada penonton untuk sibuk menilai sajiannya, seperti yang biasa ditampilkan dalam dokumenter.

Panduru mungkin mengatakan dalam sesi pembukaan Jakarta World Cinema (JWC) 2026 bahwa Mungiu tidak memihak pada konflik 'ideologi' dalam Fjord. Namun selayaknya tidak ada jurnalisme di dunia ini yang 'netral', Mungiu sedikit menampilkan kecondongannya dan itu sah-sah saja.

Hanya saja, pengalamannya sebagai jurnalis mengajarkan untuk 'adil', yakni memberikan dua sudut pandang secara seimbang adalah hal yang patut diapresiasi. Satu prinsip yang sebenarnya sudah mulai langka di era semua orang merasa berhak berbicara dan menilai dirinya paling benar di muka Bumi.

Hingga akhirnya, melalui Fjord, Cristian Mungiu memang hanya sekadar ingin bercerita soal fenomena sosial yang ia lihat tanpa ada pretensi belagak jadi social justice warrior macam di media sosial.

Namun lewat filmnya ini, penonton mungkin akan berpikir mendalam untuk benar-benar membuat sebuah keputusan dalam hidup, yang bisa jadi belum pernah dilakukan oleh lingkungannya atau dalam tradisinya.