Untuk komoditas kopi, kakao dan kelapa sawit, Zhang menyampaikan Tiongkok akan mendorong pembentukan kelompok kerja atau working group untuk membahas kerja sama komoditas unggulan Indonesia tersebut. Pembahasan teknis ini diharapkan membantu kedua negara mengidentifikasi peluang dan merumuskan tindak lanjut kerja sama.

Zhang juga menawarkan penguatan diskusi teknis dan kolaborasi penelitian, termasuk pemanfaatan drone tanpa awak, robot pertanian, dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Tiongkok juga menyatakan kesiapan mengorganisasikan delegasi perusahaan untuk menjajaki peluang investasi di Indonesia.

Amran menegaskan kerja sama dengan Tiongkok harus menghasilkan manfaat konkret bagi sektor pertanian Indonesia. Kemitraan tidak cukup hanya menjaga kelancaran perdagangan, tetapi juga perlu memperkuat kemampuan produksi nasional, mempercepat modernisasi pertanian, dan meningkatkan nilai tambah komoditas unggulan.

"Kita ingin kerja sama ini diperkuat. Untuk komoditas yang kita butuhkan, seperti bawang putih dan kedelai, kita harapkan pasokannya semakin baik," kata Amran.

"Di sisi lain, kita juga ingin memperbesar ekspor komoditas unggulan Indonesia ke Tiongkok," sambungnya.

Salah satu agenda utama yang diusulkan Amran adalah pengembangan bawang putih secara menyeluruh, mulai dari penyediaan benih, teknologi budidaya, alat dan mesin pertanian, hingga pembangunan klaster produksi di Indonesia. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas produksi dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan luar negeri.

Saat ini, sekitar 90% kebutuhan bawang putih Indonesia dipenuhi dari Tiongkok. Karena itu, Amran mendorong agar hubungan kedua negara dikembangkan menjadi kemitraan yang juga mendukung peningkatan produksi bawang putih di Indonesia.

"Kita ingin kerja sama hulu sampai hilir untuk bawang putih, mulai dari benih, teknologi, alat dan mesin pertanian, hingga membangun klaster di Indonesia," ungkap Amran.