Konferensi tersebut juga dihadiri oleh perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia, pemerintah Malaysia, Papua Nugini, Kongo, serta berbagai pelaku usaha di sektor minyak nabati, akademisi, peneliti, dan pihak terkait lain.
Diskusi panel dalam konferensi itu menyoroti pergeseran kebijakan hijau bagi industri kelapa sawit, integrasi teknologi dalam produksi minyak nabati, peningkatan kapasitas petani kecil untukproduktivitas berkelanjutan hingga pengembangan bahan bakar nabati bagi pembangunan ekonomi rendah karbon.
Konjen RI Shanghai, Berlianto Situngkir, juga menjelaskan penyelenggaraan SVOC di Shanghai memiliki makna strategis karena China merupakan mitra dagang terbesar bagi negara anggota CPOPC, dan Shanghai merupakan pusat ekonomi China dengan keunggulan di sektor keuangan, inovasi teknologi, manufaktur, perdagangan dan konektivitas global.
"Sinergi dari seluruh elemen tersebut akan meningkatkan produktivitas, mendorong inovasi, dan menciptakan nilai tambah yang lebih tinggi sehingga menjadi kunci untuk membangun ekonomi yang kompetitif dan terhubung dengan rantai pasok global," kata Berlianto.