NADIKABAR.COM — Indonesia melaporkan pencapaian penghapusan bahan perusak ozon (BPO) berhasil melebihi target mencapai 72,66 persen pada 2025, dipaparkan dalam forum internasional di Kigali, Rwanda.

Menurut keterangan dikonfirmasi dari Jakarta, Sabtu, Delegasi Republik Indonesia menghadiri 38th Meeting of the Parties to the Montreal Protocol on Substances that Deplete the Ozone Layer (MOP38) di Kigali, Rwanda pada 2-6 November 2026 untuk membahas kemajuan implementasi menurunkan senyawa memiliki potensi pemanasan global (GWP) tinggi karena dapat merusak ozon seperti Hidrofluorokarbon (HFC) dan hidroklorofluorokarbon (HCFC).

"Kita harus menerjemahkan semangat Kigali ke dalam implementasi nyata: memenuhi komitmen penurunan HFC, mempercepat akses terhadap teknologi yang aman, ber-GWP rendah dan hemat energi, serta memperkuat dukungan finansial dan teknis bagi negara berkembang," ujar Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) Ary Sudijanto.

HFC sendiri merupakan gas rumah kaca dengan potensi pemanasan global puluhan hingga ribuan kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida, dengan HCFC juga memiliki kandungan perusak ozon. Kedua senyawa kerap digunakan untuk sistem pendingin, pelarut dan bahan busa.