NADIKABAR.COM — Badan Pengawas Obat dan Makanan bertemu dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Federasi Rusia Alexey Vladimirovich Gruzdev untuk membahas penguatan kerja sama guna mendukung kemandirian industri farmasi nasional dan meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan.

Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan dalam keterangan di Jakarta, Sabtu, salah satu fokus utama pertemuan adalah peluang transfer teknologi untuk mendukung penguatan kapasitas produksi obat dalam negeri. Selain itu, pertemuan itu membahas sejumlah peluang kerja sama strategis, yakni pengembangan industri farmasi, peningkatan kapasitas inspeksi good manufacturing practices (GMP), serta pemanfaatan teknologi digital untuk memperkuat ketertelusuran dan pengawasan produk obat dan makanan.

Kedua pihak juga membahas percepatan finalisasi memorandum of understanding (MoU) antara BPOM dan Kementerian Perindustrian dan Perdagangan (Ministry of Industry and Trade/MIT) Federasi Rusia.

"Kerja sama ini merupakan pengembangan dari penjajakan yang telah berlangsung sejak 2021 antara BPOM dan State Institute of Drugs and Good Practices (SID&GP) Rusia, khususnya di bidang pertukaran informasi GMP, pelatihan inspektur, dan simulasi inspeksi (mock inspection)," katanya.

Taruna juga menyoroti pentingnya penguatan kapasitas produksi obat diabetes, termasuk insulin dan produk berbasis glucagon-like peptide-1 (GLP-1), guna mengurangi ketergantungan terhadap impor serta meningkatkan akses masyarakat terhadap obat yang dibutuhkan.

Dia menyebutkan, peluang kerja sama antara Indonesia-Rusia juga mencakup pengembangan produk farmasi berteknologi tinggi. Produk yang dimaksud antara lain seperti advanced therapy medicinal products (ATMP), terapi seluler Chimeric Antigen Receptor T-cell (CAR-T), antibodi monoklonal, obat antivirus, dan produk fraksionasi darah.