Namun Menteri Luar Negeri (Menlu) Ukraina, Andriy Sybiga, menyebut insiden itu sebagai "kesalahpahaman diplomatik".

Sejak Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022, Korut telah mengirimkan pasukan untuk mendukung upaya perang Moskow sebagai imbalan atas keuntungan ekonomi dan teknologi militer.

Badan intelijen Korsel memperkirakan tahun lalu bahwa sekitar 2.000 tentara Korut tewas dalam perang tersebut. Sementara penilaian yang lebih baru menyebut jumlah tentara Korut yang tewas atau luka-luka mencapai sekitar 6.000 personel.

Perselisihan diplomatik yang terjadi telah menghambat harapan Ukraina untuk mendapatkan pasokan persenjataan dari Korsel. Hingga saat ini, Seoul belum memasok senjata mematikan ke Ukraina, dengan alasan adanya larangan domestik terkait pemberian bantuan militer kepada negara yang sedang berperang.