Hasilnya, otak dapat membedakan keenam jenis teriakan karena masing-masing memiliki pola yang berbeda. Peneliti menggunakan sistem untuk membandingkan respons relawan dengan jawabannya, dari enam jenis teriakan tersebut akurasinya mencapai 79,8 persen.

Di sisi lain, teriakan bahagia sendiri akurasinya hampir 90 persen, artinya relawan dapat menebak dengan benar bahwa teriakan tersebut mencerminkan kegembiraan/kesenangan. Teriakan kesedihan merupakan yang paling sulit diidentifikasi, akurasinya hanya berada di 65,8 persen.

Peneliti kemudian menambahkan 90 orang relawan lagi untuk diteliti responnya, apakah bisa membedakan teriakan bahagia dengan teriakan lainnya. Kali ini, peneliti menghitung seberapa cepat relawan dapat mengidentifikasi jenis teriakan.

Teriakan peringatan mendapat respons paling lama. Para relawan merasa bingung saat membedakannya. Bahkan setelah relawannya ditambah 30 orang, hasilnya masih tetap sama.

Secara keseluruhan, teriakan negatif seperti ketakutan, kesakitan, dan kemarahan, lebih mengaktifkan bagian otak frontal dan seluruh korteks pendengaran. Sedangkan, teriakan positif atau bahagia lebih mengaktifkan otak bagian amigdala.