Amigdala dapat diibaratkan sebagai sistem alarm emosi otak yang dapat membantu manusia mengenali dan merespons berbagai sinyal emosi dari lingkungan sekitar.

Peneliti mengungkapkan salah satu keterbatasan studi ini yaitu teriakan yang dihasilkan bukan merupakan spontanitas melainkan akting. Juga, peneliti mengungkapkan saat relawan menebak teriakan, mereka cenderung menebaknya termasuk dalam kategori yang mengkhawatirkan.

Sascha FrΓΌhholz, seorang ahli neurosains kognitif di Universitas Oslo, menjelaskan manusia mulai berteriak saat merasa bahagia ada kaitannya dengan kehidupan sosial manusia. Musik, tawa, dan teriakan bahagia bisa menjadi cara manusia untuk menunjukkan perasaan positif kepada manusia lain di sekitarnya.

Penulis adalah peserta MagangHub Kemnaker di NadiKabar.com.