Para peneliti juga mempertimbangkan berbagai kondisi keluarga anak-anak tersebut seperti tingkat pendidikan orang tua, faktor bahasa, budaya, dan kesehatan, serta apakah mereka berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal atau lengkap, termasuk pula potensi adanya pengaruh dari pihak sekolah.
Studi tersebut menemukan peningkatan capaian akademik yang diharapkan dari kelas 3 ke kelas 5 dalam bidang membaca dan berhitung menjadi lebih rendah di sekolah-sekolah yang terdampak kebakaran parah. Namun, tidak ditemukan dampak signifikan terhadap tren nilai menulis, mengeja, dan tata bahasa. Juga tidak ada perbedaan nilai berdasarkan jenis kelamin pada semua nilai tersebut.
Para penulis menggarisbawahi, keterampilan kognitif yang berkaitan dengan jenis-jenis pembelajaran dapat dipengaruhi oleh pengalaman trauma pada masa awal. Setelah bencana, tantangan yang terus-menerus terjadi di rumah, sekolah, dan lingkungan masyarakat juga dapat memengaruhi kesempatan belajar.
Studi ini tidak menyertakan siswa yang pindah ke sekolah lain tim redaksi kelas 3 dan 5. Akan tetapi, mengingat kepindahan tempat tinggal lebih sering terjadi pada keluarga yang kehilangan harta benda akibat bencana, maka anak-anak tersebut kemungkinan besar juga berisiko mengalami dampak terhadap proses belajarnya.
Hasil riset senada juga diungkap oleh penelitian dari Stanford University. Berdasarkan penelitian mereka pada 2022 lalu, ketika asap kebakaran hutan mencemari udara di halaman sekolah dan ruang kelas, hal tersebut tidak hanya berdampak buruk pada kesehatan anak-anak, tetapi juga pada kemampuan belajar dan bahkan potensi penghasilan mereka di masa depan.
Analisis tersebut diterbitkan dalam jurnal Nature Sustainability dengan judul "Lower test scores from wildfire smoke exposure". Peneliti melakukan kajian dengan menggunakan data skor tes terstandar nasional selama delapan tahun. Terdapat data dari hampir 11.700 distrik sekolah negeri yang mencakup enam jenjang kelas, serta estimasi paparan asap harian berdasarkan pengukuran satelit.
Para peneliti menemukan skor tes mata pelajaran bahasa Inggris dan matematika menurun secara signifikan selama tahun-tahun belajar, bahkan pada tingkat paparan asap yang rendah. Terlebih, dampak terhadap skor tes tersebut semakin besar seiring dengan memburuknya paparan asap yang didapat siswa.