NADIKABAR.COM — Penggunaan kecerdasan buatan (AI) berbasis agen otonom di berbagai sistem perusahaan memicu pergeseran mendasar pada lanskap risiko keamanan siber.

Laporan State of the Internet (SOTI) terbaru dari Akamai berjudul The Agentic Frontier: Speed, Scale, and Nonhuman Identity mengungkapkan bahwa tantangan utama para Chief Information Security Officer (CISO) kini telah berkembang dari sekadar manajemen identitas manusia menjadi tata kelola perilaku entitas non-manusia.

Laporan edisi ke-12 dari Akamai ini menyoroti sejumlah celah keamanan krusial yang dipicu oleh adopsi AI di lingkungan korporat:

Chief Security Officer Akamai, Boaz Gelbord, menjelaskan bahwa pesatnya perkembangan AI menciptakan tekanan masif pada seluruh ekosistem keamanan jaringan.

"AI menghadirkan momen 'everything, everywhere, all at once' bagi ekosistem keamanan secara keseluruhan. Ada tiga ancaman utama: Penggunaan AI secara internal di seluruh organisasi, integrasi AI langsung ke dalam produk dan beban kerja cloud, serta serangan berbasis AI yang menargetkan perusahaan. Program keamanan perlu beradaptasi dengan realitas yang berkembang pesat ini," ujar Boaz Gelbord, dalam keterangan yang diterima NadiKabar. Advisory CISO Akamai, Steve Winterfeld, menambahkan bahwa pergeseran dari AI jawab-soal menjadi AI pengeksekusi strategi bisnis mewajibkan kepemimpinan keamanan siber untuk berevolusi secara sejajar.

Untuk mengantisipasi era AI berbasis agen, Akamai merumuskan empat pilar langkah strategis bagi para CISO: