NADIKABAR.COM — Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Stella Christie mengatakan bahwa penggunaan kecerdasan buatan (AS) secara berlebihan berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis generasi muda, sehingga perlu adanya penyeimbang latihan kognitif.

“Jadi kalau kita menggunakan AI untuk men-training, misalnya kita diskusi sama AI-nya, itu mungkin akan bisa membantu kita. Tetapi, kalau kita menggunakan AI untuk mendapatkan jawaban cepat, pasti otaknya juga tidak akan bisa berkembang,” kata Stella Christie di Jakarta, Rabu.

Menurut dia, hal ini sudah dibuktikan di berbagai penelitian yang ada. Penelitian menunjukkan penggunaan AI dapat berkaitan dengan penurunan kemampuan akademik dan analisis apabila teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan proses berpikir mandiri.

Ia mengutip studi yang menemukan bahwa siswa yang menggunakan AI setiap hari, memperoleh skor sains lebih rendah dibandingkan mereka yang hampir tidak pernah menggunakan teknologi tersebut.

Selain itu, ia juga merujuk dari penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang membandingkan kemampuan mahasiswa menulis esai dengan bantuan AI, mesin pencari internet, dan tanpa bantuan teknologi.

Menurut Stella, penelitian tersebut menunjukkan kualitas esai mahasiswa yang menggunakan AI lebih buruk dibandingkan mereka yang mengerjakan tugas tanpa bantuan AI.