Kemudian, pendanaan kini semakin banyak mengalir ke perusahaan rintisan yang secara khusus mengembangkan kecerdasan robot selain kepada produsen robot.
Sejumlah perusahaan rintisan di AS, termasuk Physical Intelligence, Skild AI dan Generalist, tengah mengembangkan perangkat lunak yang dirancang untuk mengajarkan berbagai keterampilan kepada robot tanpa perlu melakukan pelatihan ulang secara ekstensif.
Generalist menyebut model GEN-1.5 miliknya mampu menyelesaikan sekitar 60 persen tugas sederhana setelah melihat demonstrasi selama 3 hingga 12 detik.
Sementara itu, perusahaan asal China, X Square, telah mempublikasikan penelitan yang menunjukkan bahwa robot dapat mempelajari keterampilan menangani benda hannya dengan melihat satu video demonstrasi manusia, tanpa perlu melatih ulang model untuk setiap tugas.
"Laboratorium AI terkemuka di AS telah menetapkan standar yang cukup tinggi, terutama dalam hal seberapa cepat robot dapat mempelajari dan menggunakan keterampilan yang dimilikinya," kata konsultan robotika Georg Stieler.
Stieler menilai sejumlah perusahaan rintisan terkuat di China merupakan pesaing yang patut diperhitungkan.
Lebih lanjut, pengembang di AS dinilai memiliki keuntungan dari kemajuan penelitian AI dan akses yang lebih luas terhadap chip komputasi bertenaga tinggi. Namun, perusahaan-perusahaan China dapat bekerja sama secara langsung dengan produsen robot dan pelanggan industri untuk menguji serta meningkatkan kemampuan sistem mereka.
Sejumlah perusahaan rintisan khusus di China seperti X Square, Galaxea, dan Spirit AI kini telah mencapai valuasi sekitar US$3 miliar.
"Kami ingin robot beralih dari sekadar digerakkan oleh kode menjadi digerakkan oleh akal sehat," kata Co-Founder sekaligus COO X Square, Yang Qian.
Berbeda dengan chatbot yang mempelajari teks dalam jumlah yang besar di internet, robot membutuhkan contoh interaksi fisik. Misalnya, bagaimana cara menggenggam benda hingga menangani kabel yang lentur.
Perusahaan-perusahaan China menerapkan berbagai pendekatan untuk mengumpulkan informasi tersebut. Sebagian mempekerjakan orang untuk memperagakan suatu tugas, sementara yang lain menggunakan simulasi komputer dan ada pula perusahaan yang menggabungkan kedua metode tersebut.