Susilo pun sempat berusaha melawan kabar bohong itu. Saat tampil di sejumlah daerah, ia bahkan diminta menyampaikan langsung kepada penonton jika dirinya tidak pernah mengucapkan guyonan tersebut. Namun, ia mengaku canggung karena merasa seperti membela diri atas tuduhan yang tak pernah dilakukan.
"Saya pernah diminta ngomong di panggung kalau saya tidak pernah bilang begitu. Tapi saya ya isin (malu). Masa saya dituduh terus saya yang harus ngomong tidak," ujarnya.
Upaya lain juga dilakukan dengan tetap menerima undangan pentas meski honornya dipangkas drastis. Harapannya, masyarakat bisa melihat langsung bahwa dirinya tidak dipenjara seperti yang beredar.
Namun usaha itu belum sepenuhnya menghapus stigma. Bahkan, saat berhenti di sebuah terminal seusai pentas, ia pernah diteriaki seseorang yang mengira dirinya baru bebas dari penjara.
"'Heh, wonge wis diapura! Saiki wis metu saka penjara! (Heh, dia sudah dimaafkan! Sekarang sudah keluar dari penjara)'," kenangnya.
Susilo mengenang hoaks itu masih terus menghantuinya hingga sekarang. Saat menjadi bintang tamu sebuah podcast yang tayang pada Juni 2026, ia kembali menemukan komentar warganet yang mengungkit isu tersebut.
"Ada yang komentar, 'Saya jadi ingat uang 500 dan 50.' Loro banget rasane saya. Sudah 31 tahun masih ada yang ingat itu. Saya benar-benar sakit hati," ungkapnya.
Bagi Susilo, pengalaman itu menjadi pelajaran jika kabar bohong bisa meninggalkan luka yang sangat panjang.
"Makanya saya sekarang paling tidak suka dengan hoaks. Saya sendiri pernah kena dampaknya," jelasnya.