Susilo sendiri mengaku tak pernah ambil pusing dengan karirnya. Menurutnya, karir di seni pertunjukkan yang selama ini dia jalani datang dengan berbagai kebetulan.

"Aku tidak pernah punya target harus punya penggemar sekian banyak atau karya saya hebat, nggak ada seperti itu. Aku pelaku seni wae aku senang kesenian, titik," ujarnya.

Kecintaan Den Baguse Ngarso kepada seni peran tumbuh tak lepas dari bagaimana seni pertunjukan menggeliat di Jogja pada masa kecilnya. Pria yang kini berusia 67 tahun itu menyebut di masa kecilnya, hampir setiap kampung memiliki sanggar atau kelompok teater.

Seni pertunjukkan pun tersedia di mana-mana sehingga ada banyak kesempatan bagi anak-anak muda belajar seni drama hingga tampil dalam pentas.

Ia sendiri mulai bergabung atau ikut bermain di kelompok teater sejak SD. Menurutnya, itu adalah hal yang umum pada masa itu anak-anak menghabiskan waktu di kelompok teater.

"Sini dulu tu tiap kampung ada bukan hebatnya kampung sini, bukan, memang tiap kampung ada," ujarnya.

Rasa cocok dengan pergaulan di kelompok teater membuatnya larut. Namun, baru pada masa SMA dirinya ikut terjun dalam pentas.

Sejak itu, ia tak pernah beristirahat untuk bermain seni peran. Apa yang ia mainkan pun beragam dari drama hingga ketoprak.

"Saya senang aja, tak latih ya nggak, ya dolan aja. Cenderung senang yang bentuk-bentuk dialog lama terus ikut teater itu ya dari grup ke grup sanggar ke sanggar. Bukan saya itu kuliah di bidang seni nggak. Jadi takoni teori ya nggak mudeng aku, cuma seneng wae aku, cuma nggak leren-leren," jelasnya.