"Nah dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat. Dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25% sudah mencapai 35% dari total investasi yang masuk," beber Rosan.
Lebih lanjut, Rosan menjelaskan kawasan industri pengolahan di Maluku Utara ini sudah menyumbang hampir separuh Produk Domestik Bruto (PDBO) Provinsi tersebut. Menurut Rosan, Maluku Utara tak lagi sekadar daerah tambang, tapi telah disulap menjadi daerah industri, dapat dilihat dari surplus perdagangan wilayah tersebut telah meningkat signifikan pada 2025 yang mencapai Rp 31,1 triliun. Adapun
Surplus perdagangannya juga meningkat tajam mencapai 31,1 triliun pada 2025. Ekspor di kawasan ini didominasi oleh produk olahan nikel, seperti feronikel, nikel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nikel sulfat, dan kobalt.