PLTN terapung merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir yang ditempatkan pada unit atau kapal khusus. Teknologi ini berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk memasok listrik ke wilayah pesisir dan daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan infrastruktur energi.

Menurut Rosatom, unit pembangkit terapung dapat menghasilkan listrik secara berkelanjutan tanpa bergantung langsung pada kondisi cuaca, sehingga berpotensi melayani kebutuhan kawasan industri maupun permukiman.

Untuk pasar internasional, Rosatom mengembangkan FPU-100 yang menggunakan reaktor RITM-200M dan dirancang agar dapat beroperasi di iklim hangat. Setiap unit memiliki kapasitas pembangkitan listrik 100 MW. Dengan dua unit, proyek di Malut direncanakan memiliki kapasitas total 200 MW.

Rosatom menyatakan reaktor seri RITM menawarkan desain yang lebih ringkas, daya keluaran lebih besar, serta interval pengisian ulang bahan bakar yang lebih panjang dibandingkan generasi reaktor sebelumnya. Teknologi ini dikembangkan berdasarkan pengalaman penggunaan reaktor kelautan pada armada kapal pemecah es bertenaga nuklir Rusia.

Sebelumnya, Rosatom telah mengoperasikan Akademik Lomonosov di Chukotka, Rusia, sejak 2020. Pembangkit listrik nuklir terapung tersebut menggunakan dua reaktor KLT-40S generasi sebelumnya.

Menurut data perusahaan, fasilitas itu telah menghasilkan hampir 1,4 miliar kilowatt-jam (kWh) listrik sejak mulai beroperasi.

Rosatom juga tengah mengembangkan proyek pembangkit nuklir skala kecil di sejumlah negara dan wilayah. Di Uzbekistan, perusahaan tersebut membangun pembangkit nuklir skala kecil yang menggunakan reaktor RITM-200N.

Sementara itu, di wilayah otonom Chukotka, Rusia, Rosatom membangun rangkaian unit pembangkit terapung FPU-106 dengan reaktor RITM-200S untuk memasok listrik ke kawasan industri pertambangan tembaga.

Rosatom menyatakan memiliki pengalaman dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di berbagai negara. Perusahaan tersebut mengklaim tengah membangun 27 PLTN di sembilan negara, sehingga menjadi salah satu pemain utama dalam proyek pembangunan pembangkit nuklir di pasar internasional.

Kerja sama dengan Indonesia menjadi bagian dari upaya Rosatom memperluas pemanfaatan teknologi nuklir, termasuk untuk kebutuhan listrik di wilayah yang memerlukan pasokan energi andal.

Bagi Indonesia, rencana pembangunan PLTN terapung di Malut menawarkan opsi baru untuk memenuhi kebutuhan listrik dan mendukung pengembangan ekonomi kawasan timur. Meski demikian, realisasi proyek masih bergantung pada pelaksanaan ketentuan kontrak, kesiapan teknis, serta tahapan pengembangan yang diperlukan sebelum pasokan listrik dapat dimulai.