"Kalau barang yang sudah dibeli ternyata tidak sesuai, pengguna biasanya tidak mau memakainya. Akibatnya, barang menumpuk di gudang hingga kedaluwarsa dan menjadi kerugian bagi rumah sakit," katanya menjelaskan.

Sebelum menggunakan Bakul Jamu, kata dia, persentase anggaran untuk barang yang tidak terpakai diperkirakan mencapai sekitar 20 persen, sekarang angka tersebut mulai menurun seiring upaya efisiensi yang dilakukan rumah sakit, meskipun pihaknya masih menargetkan pengurangan barang kedaluwarsa hingga mendekati nol.

Menurut dia, Bakul Jamu dilengkapi dasbor interaktif yang menyajikan identitas produk, jumlah sampel, unit sasaran, status pelaksanaan, serta hasil rekomendasi.

Dia mengatakan fitur tersebut memudahkan pemantauan, penelusuran hasil evaluasi, dan penyampaian umpan balik kepada unit pengguna maupun penyedia.

“Melalui inovasi bertajuk ‘Transparan dalam Evaluasi, Tepat dalam Rekomendasi’ tersebut, kami berharap tata kelola pengadaan BHP semakin akuntabel, penggunaan anggaran lebih efisien, serta ketersediaan bahan medis yang memenuhi standar mutu dapat mendukung keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan rumah sakit,” kata Nanik.