"Penambahan mesin baru ini tidak bertujuan mengejar volume, melainkan mengoptimalkan pelayanan, karena pasien gagal ginjal perlu melakukan cuci darah secara, umumnya dua kali dalam seminggu," katanya.
Ia menjelaskan pengembangan gedung dan penambahan mesin dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan serta keterbatasan kapasitas ruang layanan sebelumnya yang menyebabkan terjadinya antrean pasien.
Dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat dialisis RSUD dr. Soedomo dr. Agus Dahana mengatakan dari 31 mesin yang tersedia di gedung baru, sebanyak 28 mesin digunakan untuk pelayanan reguler.
"Di gedung baru ini jumlah mesin bertambah menjadi 31 mesin. Satu digunakan untuk isolasi airborne, satu mesin untuk pasien hepatitis B, satu mesin untuk back up atau cadangan, dan 28 mesin untuk layanan reguler," ujarnya.