NADIKABAR.COM — RSUD dr. Soedomo Kabupaten Trenggalek menambah kapasitas layanan hemodialisis (HD) atau cuci darah dari 14 menjadi 31 mesin untuk memperluas akses pelayanan serta mengurangi daftar tunggu pasien.

Penambahan kapasitas tersebut ditandai dengan peresmian pengembangan gedung layanan dialisis baru oleh Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Trenggalek ST Triadi Admono di Trenggalek, Jawa Timur, Senin.

Pj Sekda mengatakan pengembangan layanan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

"Saat ini pelayanan dialisis melayani 78 pasien HD reguler aktif, sedangkan 145 pasien dalam daftar tunggu. Ini menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap layanan ini masih tinggi," katanya.

Menurut dia, penambahan kapasitas diharapkan dapat memperluas akses masyarakat, mengurangi waktu tunggu, serta meningkatkan keselamatan dan kenyamanan pasien yang membutuhkan terapi secara rutin.

Dengan tersedianya fasilitas yang lebih banyak, pasien dalam daftar tunggu diharapkan dapat memperoleh layanan di RSUD dr. Soedomo sehingga tidak perlu menjalani cuci darah di rumah sakit di luar Kabupaten Trenggalek.

Kondisi tersebut sekaligus dapat membantu pasien dan keluarga menekan biaya transportasi maupun pengeluaran lain yang muncul karena harus menjalani terapi di luar daerah.

Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek dr. Saeroni mengatakan penambahan mesin tidak semata-mata ditujukan untuk meningkatkan jumlah pasien, tetapi untuk mengoptimalkan pelayanan sesuai kebutuhan masyarakat.

"Penambahan mesin baru ini tidak bertujuan mengejar volume, melainkan mengoptimalkan pelayanan, karena pasien gagal ginjal perlu melakukan cuci darah secara, umumnya dua kali dalam seminggu," katanya.

Ia menjelaskan pengembangan gedung dan penambahan mesin dilakukan berdasarkan analisis kebutuhan serta keterbatasan kapasitas ruang layanan sebelumnya yang menyebabkan terjadinya antrean pasien.

Dokter spesialis penyakit dalam bersertifikat dialisis RSUD dr. Soedomo dr. Agus Dahana mengatakan dari 31 mesin yang tersedia di gedung baru, sebanyak 28 mesin digunakan untuk pelayanan reguler.

"Di gedung baru ini jumlah mesin bertambah menjadi 31 mesin. Satu digunakan untuk isolasi airborne, satu mesin untuk pasien hepatitis B, satu mesin untuk back up atau cadangan, dan 28 mesin untuk layanan reguler," ujarnya.