NADIKABAR.COM — Tokyo selalu punya cara untuk memanjakan wisatawan. Termasuk, kafe dan penginapan lawas di kawasan Akasaka ini.

Dari luar, tempat ini sekilas tampak seperti kafe biasa dengan bangunan bergaya retro. Namun, antrean wisatawan asing kerap terlihat di depan kafe tersebut belakangan ini.

Fenomena itu cukup menarik perhatian. Sebab, sebagian besar pengunjungnya bukan wisatawan lokal, melainkan turis dari berbagai negara.

Lantas, apa yang membuat Tokyo Little House begitu menarik? Berikut sejumlah faktanya.

Tokyo Little House memiliki sejarah panjang. Rumah ini dibangun pada 1948, hanya tiga tahun setelah Perang Dunia II berakhir, di kawasan yang saat itu masih dipenuhi reruntuhan. Lokasinya berada tepat di belakang gedung parlemen nasional, di kawasan Akasaka, Tokyo.

"Rumah kecil kami menyaksikan kota ini bangkit dari kegelapan abu-abu hingga diterangi cahaya lampu neon seperti sekarang," demikian gambaran pemilik Tokyo Little House di situs resminya.

Menariknya, bangunan tersebut bukanlah kafe modern yang sengaja dibuat dengan konsep retro. Tokyo Little House merupakan rumah tradisional Jepang yang telah berusia sekitar 70 tahun dan menjadi saksi perubahan Tokyo dari masa ke masa.

Seiring berjalannya waktu, Akasaka berkembang menjadi salah satu kawasan yang melambangkan kebangkitan Tokyo setelah perang. Di tengah gedung-gedung modern dan gemerlap kota, Tokyo Little House menjadi salah satu rumah kayu lama yang masih bertahan hingga kini.

"Rumah kecil kami, yang sekarang dikelilingi oleh berbagai bahasa dan gemerlap cahaya, dibangun tiga tahun setelah perang, ketika kawasan ini masih berupa hamparan reruntuhan," tulis pengelola Tokyo Little House.