Total luas lantai dua sekitar 36 meter persegi, dengan ruang tamu dan kamar tidur yang terhubung dalam konsep denah terbuka. Akses menuju lantai dua juga dibuat terpisah dari kafe dan dilengkapi kunci elektronik, sehingga privasi tamu tetap terjaga.
Karakter rumah lama masih terasa dari tangga yang cukup curam. Karena itu, pengelola menyebut akomodasi ini kurang cocok untuk lansia atau tamu dengan keterbatasan fisik.
Lokasinya yang berada di kawasan hiburan juga membuat suara dari jalan terkadang masih terdengar pada malam hari, terutama sekitar pukul 21.00 hingga tengah malam atau bahkan lebih larut.
Kendati telah dilengkapi insulasi dan jendela ganda, pengelola tetap menyediakan penyumbat telinga bagi tamu yang membutuhkan suasana lebih tenang.
Popularitas Tokyo Little House kini tidak hanya datang dari wisatawan lokal. Seperti dikutip SoraNews24, pengelola kafe menyebut wisatawan mancanegara sebagai salah satu kelompok pengunjung terbanyak.
Tak heran jika antrean wisatawan asing kerap terlihat di depan kafe, terutama ketika sedang ramai. Mereka datang bukan sekadar untuk menikmati makanan dan minuman, tetapi juga untuk merasakan suasana Tokyo yang berbeda dari destinasi wisata populer pada umumnya.
Salah satu menu yang cukup menarik perhatian adalah cinnamon toast. Roti panggang tersebut dibuat renyah dengan cita rasa yang ringan dan dibanderol sekitar 600 yen atau sekitar Rp 62.000.
Pengunjung juga dapat memesan kopi untuk menemani waktu bersantai di dalam bangunan tua yang menjadi saksi perjalanan Tokyo tersebut.