Bangunan klasik tersebut terdiri dari dua lantai. Lantai pertama difungsikan sebagai kafe yang sekaligus menjadi ruang galeri.

Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati kopi dan makanan, tetapi juga bisa mengenal sejarah Tokyo melalui berbagai pameran dan koleksi yang tersedia di dalamnya.

Menurut keterangan di situs resminya, pengunjung dapat melihat pameran pilihan mengenai sejarah Tokyo serta membaca koleksi buku, majalah lama, peta, dan berbagai dokumen langka. Koleksi tersebut menggambarkan Tokyo dari sudut pandang penduduk, orang-orang yang pernah tinggal di kota ini, hingga para pengunjung pada masa lalu.

Keunikan Tokyo Little House tidak berhenti di lantai pertama. Lantai dua bangunan ini telah diubah menjadi sebuah akomodasi privat. Hanya satu kelompok tamu yang dapat menginap dalam satu waktu, sehingga suasananya lebih tenang dan personal.

Suite tersebut dapat menampung hingga tiga orang dewasa dengan masa menginap minimal lima malam. Untuk keluarga yang membawa anak, akomodasi itu dapat menampung hingga empat orang.

Meski telah direnovasi, sejumlah elemen asli rumah tetap dipertahankan. Jendela kayu, dinding tanah, lantai tatami, serta berbagai benda peninggalan keluarga masih menghiasi ruang tamu.

Sementara itu, kamar tidur telah diperbarui dengan lantai kayu, kasau terbuka, dan dinding plester. Tersedia pula dapur kecil dengan perlengkapan memasak dan peralatan makan. Toilet, pancuran, dan mesin cuci juga telah diperbarui untuk menunjang kenyamanan tamu.

Rumah tersebut sebelumnya menjadi tempat tinggal keluarga selama tiga generasi. Kini, lantai duanya diubah menjadi penginapan yang memungkinkan tamu merasakan suasana Tokyo masa lalu, sembari tetap menikmati fasilitas modern.

Renovasi Tokyo Little House dilakukan selama sekitar enam bulan. Namun, proses tersebut tidak bertujuan menghilangkan karakter lama bangunan.