Berbeda dengan Asia, mata uang utama negara maju kompak menguat. Euro Eropa naik 0,24 persen, poundsterling Inggris menguat 0,13 persen, dan dolar Australia terapresiasi 0,15 persen. Dolar Kanada juga menguat 0,16 persen, sedangkan franc Swiss naik 0,34 persen.

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong mengatakan rupiah berpotensi menguat seiring penurunan tajam harga minyak dunia. Penurunan tersebut didorong harapan berakhirnya perang Amerika Serikat (AS)-Iran setelah Partai Demokrat meraih mayoritas di Kongres dan Senat AS.

"Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan tajam pada harga minyak dunia oleh harapan berakhirnya perang AS-Iran setelah Partai Demokrat memenangkan mayoritas di Kongres dan Senat AS," ujar Lukman kepada NadiKabar.com.